• 27 Jul 2014
  • read
  • Tw
  • Fb

Revolusi Mental Di Mata Saya

Beberapa hari terakhir ini saya lihat beberapa teman-teman saya membagi link di media sosial ke tulisan ini: http://prienz.com/2014/07/02/revolusi-mental-di-mata-saya/. Saya asumsikan teman-teman saya membagi sesuatu di media sosial karena bagus dan layak untuk disimak. Memang topik tulisannya sangat bagus dan sangat penting untuk Indonesia masa depan. Tapi sayangnya, awal tulisannya saja sudah dimulai dari hal negatif.

Saya jadi teringat obrolan saya dengan seorang teman bernama Eko. Saya memanggil dia Mas Eko karena umur dia yang memang lebih tua dari saya. Waktu itu kita memang lagi ngobrol soal entrepreneurship, tapi pelan-pelan beralih ke topik mentalitas bangsa.

Waktu itu saya bilang ke Mas Eko, saya benci dengan Jumat Batik, karena tidak ada esensinya, euphoria semata, selebrasi kenihilan atas nama fashion, karena faktanya masyarakat cuman pake batik, ikut-ikutan lagi, tidak mendalami budayanya. Sebagai tandingannya, saya bikin Jumat Kaos Band, dimana setiap jumat saya pakai kaos band yang berbeda dan setiap orang yang ketemu saya boleh tanya apa saja soal band yang ada di kaos yang saya pakai, dan saya akan dengan senang hati menjelaskan soal band-nya dari awal sampai akhir sejauh pengetahuan saya. Saya pakai karena saya suka dan mendalami, bukan ikut-ikutan karena orang lain pakai.

Lalu Mas Eko bilang ke saya, “Cara pandang kamu tuh negatif banget ya?” Dang! Kalimat itu seperti menampar saya. Kayak ditampar preman pasar. Mas Eko bilang, inilah kelemahan bangsa Indonesia, selalu melihat hal dari sisi negatifnya. Selalu lupa bahwa masih ada hal-hal positif yang jika diangkat, hal-hal yang negatif itu justru akan hilang. kita terlalu fokus ke hal-hal negatif sampai lupa bahwa masih ada (dan banyak) hal-hal positif di sekeliling kita yang lebih layak di-expose ketimbang yang negatif-negatifnya. Mas Eko bener. Saya lantas malu menjadi diri saya yang serba negatif. Kritis tapi negatif.

Kaitan yang sama soal keheranan saya tentang orang-orang yang memprotes acara TV bernama YKS, belum lama ini. Jujur, saya belum pernah nonton yang namanya YKS. Kalaupun saya gak jujur, alias lupa pernah nonton, saya gak fokus ke acaranya, jadinya gak ngeh itu acara apa.

Hampir semua orang di media sosial gempar dan mengecam YKS (atau ikut-ikutan gempar dan ikut-ikutan mengecam acara itu) yang katanya merusak moral bangsa. Padahal, tidak ada yang memaksa kita untuk nonton acara itu. Kita bisa pindah channel TV, atau bahkan mematikan TV-nya dan beralih ke media lain. Tidak ada yang memaksa. Tapi anehnya acara itu selalu dibahas, selalu diangkat, selalu jadi topik perbincangan, dan yang lebih anehnya lagi perbincangannya terjadi di media sosial.

Media sosial yang saya tahu kebanyakan orang-orangnya berintelektualitas tinggi. Kebalikan dengan target audience acara YKS yang (maaf) berintelektualitas rendah. Lalu kenapa orang-orang berintelektualitas tinggi ini masih mau bahas acara itu padahal saya tau mereka semua gak suka, semua benci, tapi kok terus dibahas?

Kalau kita pake teori Mas Eko, harusnya YKS jangan pernah dibahas, dilupakan saja, semakin banyak yang lupa, semakin banyak yang nggak ngeh, semakin ratingnya turun, semakin cepat acara itu digantikan acara lain. Saya gak tau penggantinya bakal lebih bagus atau malah lebih buruk, tapi yang jelas kita jangan bahas acara itu. Biarlah acara itu jadi bahasan di warung kopi atau di pasar. Tapi tidak di media sosial. Ketidakpedulian terhadap hal negatif jadi salah satu bentuk aksi nyata, daripada kita protes-protes gak jelas minta acara itu di-stop di media sosial.

Contoh serupa, mirip tapi tak sama, adalah proposal Parental Advisory Explicit Content oleh RIAA, asosiasi industri rekaman amerika, di tahun 1993 yang ujungnya malah blunder karena menggunakan kacamata negatif untuk melihat hal negatif. Bukannya dilupain, malah ditandain. Jadinya semua orang bisa tau. Di ilmu matematika, sudah jelas, jika negatif tambah negatif hasilnya lebih negatif. Lebih lanjut soal Parental Advisory ini bisa disimak di halaman wikipedia ini.

Kembali ke soal revolusi mental, jika kita baca komentar-komentar di tulisan yang saya sertakan di awal tadi, terkuak bahwa bangsa kita bahkan masih jauh lebih baik dari bangsa lain (Singapura contohnya). Karena kita sebagai orang Indonesia sudah terlalu tertutup kacamata negatif. Kemanapun kita melihat yang ada adalah ke-negatif-an, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, kita selalu melihat bangsa lain lebih baik dari kita. Mentalitas ini yang perlu direvolusi. Mengubah mentalitas “minder” jadi mentalitas “pede”.

Ini revolusi mental buat saya. Bagaimana caranya cara pandang negatif kita musnah. Selalu pakai kacamata positif, sehingga pelan-pelan, yang negatif-negatif itu hilang exposure-nya, lalu kemudian hilang perilakunya. Karena kalau mau ngomongin hal negatif gak akan ada habisnya dan pasti akan selalu ada, sekarang gimana caranya fokus kita bergeser dari negatif ke positif.